Bromo Gunungnya Orang Tengger   Leave a comment

Laporan Perjalanan ODTW Jateng-Jatim-Jogja hari ke-4

Gunung Bromo, sebuah nama objek wisata pegunungan di Jawa Timur yang sudah sangat terkenal, bahkan sampai ke mancanegara. Bromo berasal dari bahasa Sansekerta/Jawa Kuna: Brahma, salah satu Dewa Utama Agama Hindu. Ia merupakan gunung berapi yang masih aktif. Gunung yang tingginya 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. (http://id.wikipedia.org/)

Perjalanan dari Batu Malang menuju kawasan Bromo memakan waktu cukup lama sekitar 4 jam. Pukul 9 malam kami tiba di penginapan, langsung makan malam, dan diminta segera tidur, karena perjalanan ke Gunung Bromo akan dimulai pukul setengah tiga pagi. Sebelumnya, dalam perjalan menuju penginapan, salah satu gaet lokal, Mas Untung dari Bromo Green (sebuah komunitas gaet lokal) naik ke bis kami dan memberikan pengarahan tentang perjalanan ke Gunung Bromo. Mas Untung mengingatkan kepada kami semua agar menggunakan pakaian penghangat yang cukup, karena suhu saat itu sedang ekstrim, bisa mencapai dibawah 10 derajat celcius.

Pukul setengah tiga semua peserta dibangunkan dan diminta berkumpul perkelompok berjumlah 6 orang dan menaiki mobil jeep. Butuh 12 buah jeep untuk mengangkut semua anggota rombongan kami. Setelah semuanya naik ke jeep, mobil pun bergerak cepat menuju puncak Penanjakan, sebuah puncak gunung yang biasa dipakai untuk melihat matahari terbit. Butuh waktu cukup lama ternyata perjalanan kami dengan jeep. Di samping itu jalan yang berkelok-kelok dan gelap serta menanjak menjadi tantangan tersendiri. Wajar saja mobil lain tidak diperbolehkan melalui jalur ini, karena tanjakannya yang cukup tinggi dan berbahaya. Sebelum sampai di Penanjakan kami melewati beberapa perkampungan. Dan kata Mas Untung yang semobil dengan saya, itu lah kampung orang-orang asli sini yaitu orang-orang Tengger, yang menurut sejarahnya mereka adalah keturunan salah satu anak Raja Majapahit.


Melalui penerangan listrik yang sudah ada di perkampungan tersebut, saya dapat melihat perkampungan mereka dan ternyata rumah-rumah mereka tidak jauh berbeda dengan rumah-rumah di kampung lainnya. Rumah-rumah itu pun sering disewakan buat pengunjung yang mau menginap di sana. Home Stay istilahnya. Orang-orang Tengger pun tidak berbeda sama sekali dengan para pengunjung lainnya. Cuma yang menjadi ciri khas, mereka hampir selalu mengenakan sarung yang dililitkan di leher. Sarung itu sarung serba guna, kata Mas Birin. Bisa digunakan untuk sholat. Loh, kok sholat? Apakah mereka Islam? Iya, ada diantara mereka yang beragama Islam. Selain itu untuk penutup kepala, selendang, tas, dan kegunaan lainnya.

Kurang lebih satu jam akhirnya kami tiba di Penanjakan. Ternyata kami bukan rombongan yang pertama tiba. Sudah cukup banyak mobil jeep yang terparkir di sepanjang jalan ke puncak Penanjakan. Kami pun langsung diarahkan Mas Untung ke warung-warung di dekat puncak untuk penyesuaian dengan suhu puncak yang cukup dingin. Sambil menunggu, Mas Untung membagi-bagikan pita orange kepada masing-masing peserta, sebagai penanda baginya agar mudah mengenali anggota rombongannya.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima. Kami pun segera ke puncak Penanjakan. Ramai sekali suasananya, dan rata-rata menggunakan baju yang tebal. Di puncak Penanjakan tersedia deretan bangku panjang dari kayu yang disusun berundak-undak mirip sebuah studio tempat menonton pertunjukan. Bangku-bangku itu disusun menghadap ke timur, ke arah matahari terbit. Angin cukup kencang bertiup ke arah kami, dan sebagian peserta pun menggigil kedinginan, padahal sudah menggunakan pakaian yang tebal. Suasana gelap, membuat buat kami hanya bisa berdiam di bangku masing-masing menunggu terbitnya matahari.

Pukul 05.22 pagi matahari mulai mengintip di depan kami. Namun hanya sebentar, dan segera menutupi dirinya dengan kabut tebal, seolah malu diperhatikan ratusan pasang mata di depannya. Sesekali ia muncul lagi, namun bersembunyi lagi, genit sekali. Dan tahu-tahu cahaya sudah menerangi tempat kami berdiam. Di bawah terangnya cahaya matahari, baru kami dapat melihat orang-orang sekitar yang berkumpul di situ. Banyak sekali wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Setelah puas berpoto-poto di puncak Penanjakan, kami pun dibawa pergi oleh iring-iringan jeep menuju padang pasir bromo. Sepanjang pemandangan yang terlihat benar-benar indah, padahal semalam ketika kami datang melewati jalan yang sama, hanya gelap yang kami lihat. Dan sekarang, subhanallah… sungguh indah ciptaan Allah ini. Deretan puncak-puncak Gunung terpampang di depan kami, padang pasir yang luas terhampar di bawahnya. Benar-benar ciptaan yang maha sempurna.

Setelah sampai di pintu gerbang (padahal pintunya nggak ada he he he) ke Gunung Bromo mobil-mobil jeep pun diparkirkan. Sudah banyak ternyata jeep yang parkir, ratusan mungkin. sungguh pemandangan yang fantastis. Dari sana kami berjalan menuju puncak Bromo. Selain berjalan kaki, pengunjung juga bisa menyewa kuda yang banyak tersedia milik orang-orang Tengger. Tapi ongkos sewanya cukup mahal 100 ribu rupiah perkuda PP. Kami pun lebih nyaman mengendarai kaki kami masing-masing (ha ha ha… dasar turis bokek.)

Di antara parkiran jeep dan Gunung Bromo terdapat sebuah pura (tempat beribadah agama Hindu). Pura itu cukup luas dan indah. Pura ini biasa dipakai untuk upacara Kasodo oleh orang-orang Tengger yang beragama Hindu, yaitu upacara tolak bala, mohon rezeki,dan kesembuhan terhadap penyakit. Upacara ini diadakan setahun sekali pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Dari pura ini sesaji yang mereka bawa nantinya akan dilempar ke kawah gunung Bromo. Dan anehnya, orang-orang Tengger lainnya memperebutkan sesaji-sesaji yang dibuang itu sampai hampir ke dasar kawah.

Jauh juga perjalan kami menaiki puncak Bromo, butuh waktu satu jam kurang lebih. Sebelum sampai di puncak, kami harus menaiki anak tangga yang cukup tinggi. Untungnya saya sudah biasa naik turun tangga di gedung FIS, jadi tidak terlalu kaget menaiki anak tangga yang cukup banyak itu.

Sesampainya di puncak Bromo, sebuah pemandangan indah terpampang di depan kami. Kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat) (www.dephut.go.id) dengan semburan asap putih di bawahnya yang mengeluarkan bau tidak sedap, ciri khas belerang. Pemandangan sekelilingnya lebih menakjubkan. Pura, hamparan pasir, deretan mobil jeep yang terparkir terlihat indah dari kejauhan.

Tidak berlama-lama kami berada di puncak Bromo. Selain karena sangat padat para pengunjung yang ada di atas sana, kami pun dituntut untuk segera meluncur lagi ke objek wisata berikutnya. Setelah puas berpoto-poto kami pun turun. Ketika berpoto bersama, saya baru sadar bahwa tidak semua anggota rombongan yang ikut naik ke puncak, hanya sebagian saja dari mereka yang punya nyali yang tertantang mendaki puncak Bromo. (Yang lain cemen donk…? Kira-kira gitu lah…. ha ha ha)

Bersambung.

Iklan

Posted Jumat, 16 Juli 2010 by FAS in budaya, Jalan-jalan, Pendidikan, Sejarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: