Belajar Makan Ala Eropa   2 comments

Laporan Perjalanan ODTW Jateng-Jatim-Jogja hari ke-5

Minggu pagi di kota Jogjakarta, semua peserta sudah berpakaian rapi dan resmi. Semua mahasiswa diwajibkan mengenakan seragam biru-biru, dengan jas dan dasi. Ada apa ini? Kok di Jogja, kota seni begini malah resmi-resmian segala? Bukannya nggak mengerti situasi atau mau gaya-gayaan. Kali ini jadwal kami memang acara resmi, yaitu kursus Table Manner dan House Keeping di hotel Santika Jogja. Jadi mereka tidak mau tampil memalukan di hotel nanti.
Semuanya sudah siap, duduk dengan rapi di dalam bis. Tapi ada yang aneh. Kok beberapa mahasiswa cowok di suruh turun dari bis dan ditinggal pergi? Oooo ternyata, mereka diminta mencari tukang cukur dulu untuk memotong rambut mereka yang dianggap terlalu panjang oleh Pak Nino.Tapi sepagi itu, di mana tukang cukur yang sudah buka? “Ribet-ribet deh.”, pikir saya.

Dalam perjalan menuju hotel Santika yang tidak terlalu jauh letaknya, Pak Sobirin meminta Piyu yang kebetulan kelahiran Jogja, memandu kami tentang kota Jogja. Tapi setelah saya perhatiin dengan seksama… dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (alah kok malah kayak baca teks proklamasi), Piyu terlihat kikuk menjelaskan kotanya sendiri. Apa jangan-jangan dia nggak tinggal di kota ini kali ya, tapi di desa? Bukan sih, tapi karena dia mengalami GAS (General Adaptation Syndrome, yaitu istilah dalam public speaking untuk kecemasan dalam berkomunikasi.) Kecemasan seperti ini sangat wajar bagi orang yang akan berbicara di depan orang ramai. Gejalanya adalah gemetar, berkeringat walaupun di bis AC, mulut kering, hilang konsentrasi dan banyak lagi. Ini yang saya perhatikan terjadi pada mereka yang sudah tampil sebelumnya dan yang akan datang selama tour ini. Beda dengan Mas Birin, Rahmat atau Rudo yang sudah kawakan dalam dunia tarik suara…. eh…pemanduan. Dan yang pasti itu semua karena latihan dan latihan, tidak ada rumus lain.

Mendekati jam 9 kami tiba di hotel Santika, sebuah hotel bintang empat yang cukup cantik dengan nuasa daerah yang kental. Ini terlihat dari hiasan-hiasan pada interior hotel tersebut. Selain itu hotel ini juga menggunakan nama-nama-nama batik untuk menamai ruang-ruang atau room mereka, seperti Jatinom Room, Graha Sido Mulyo, Teras Pandan Sari, dan lain-lain.

Begitu memasuki pintu utama hotel,kami langsung disambut oleh pihak manajemen hotel, Bapak dan Ibu yang ramah-ramah. Kami langsung diantar ke ruang pertemuan Jogjakarta Room di ground floor yang cukup indah, dengan lampu-lampu kristalnya yang berwarna kuning keemasan. Di ruang itu sudah tersusun rapi meja-meja bulat yang masing-masing dikelilingi delapan buah kursi. Di masing-masing meja sudah tersusun rapi perlengkapan makan yang terlalu banyak untuk ukuran saya yang orang kampung ini. Tapi ternyata itu pun masih kurang lengkap, kata pelatih kursus kami. (Ampun deh.. orang bule ribet amat ya kalo mau makan…. hi hi hi).

Setelah sedikit memberikan sambutan, menjelaskan sedikit tentang keberadaan Hotel Santika itu, kami pun dibawa berkeliling untuk melihat-lihat beberapa ruang. Ruang pertama yang kami tuju adalah ruang fitnes, spa dan salon. Selanjutnya kami dibawa turun menuju kolam renang. “Aduh segernya, jadi pengen berenang.”, komentar sebagian peserta ketika menyaksikan birunya air kolam di depan mata mereka. Setelah berhenti sebentar untuk mendengarkan sedikit penjelasan dari pihak hotel, kami pun diarahkan ke Samba Lounge. (Ruang apaan itu? Alah-alah… emang bule bikin ribet… ruang santai aja, nyebutinya disusah-susahin…hihihi… dasar orang udik.) Di ruangan ini terdapat meja bulet kecil yang dikelilingi dua kursi santai dari rotan. Menurut buku panduan, ruang ini mampu menampung 80 orang (kalau duduk semua, tapi kalau pake berdiri bisa rame… apalagi pake empet-empetan kayak naek metromini.)

Di depan ruangan ini terdapat panggung kecil, dan di samping kanan panggung ada ruangan nyempil dan ternyata di situ tersimpan puluhan botol minuman keras inpor (Kenapa pake nyimpil ya naronya? Apa takut digrebek FPI?….ha ha ha… ada-ada aja, FPI lah grebek hotel). Eh…apaan tuh rame-rame? Sementara saya dan beberapa mahasiswa melihat-lihat sampange, di ruang lounge tadi ada seorang bapak yang dikerumuni teman-teman yang lain. Oh ternyata, dia itu pesulap. Dia sedang mempertunjukkan satu trik permainan kartunya kepada Pak Sobirin, Pak Dede dan Bu Budi. Ternyata sulap sedang mewabah di mana-mana. Selain di hotel ini, saya juga beberapa kali melihatnya di beberapa rumah makan Pringsewu yang kami singgahi.

Usai menunjukkan kebolehannya dan mendapatkan tepukan yang meriah, kami pun diarahkan ke lantai atas untuk melihat satu kamar tidur yang kebetulan sedang kosong. Awalnya kami tidak mendapatkan satu kamar kosong pun untuk dikunjungi karena semua kamar penuh oleh penginap di musim liburan ini. Sebuah kamar yang rapi kami masuki. Terdapat dua tempat tidur dan satu kamar mandi, meja rias dan lain-lain. Terjadi tanya jawab yang cukup baik di ruangan itu antara mahasiswa dan mbak yang mengantar kami di kamar itu. Sepertinya pada bertanya tentang trik merapikan kamar sehingga bisa sebagus ini, untuk dicontek di kamar kos mereka katanya (ha ha ha …lebay).

Usai meninjau kamar tidur, kami pun dikembalikan (eh…kembali maksudnya) ke ruangan tempat pelatihan. Setelah kumpul semua, termasuk mereka yang telat gara-gara disuruh cukur oleh Pak Nino tadi, kursus tentang etika makan ala Eropa dimulai. Cukup panjang penjelasannya. Mulai dari cara duduk, cara memegang peralatan makan, cara berbincang-bincang, cara istirahat keluar dari jamuan untuk ke toilet misalnya, dan lain-lain. Termasuk urutan makan, dan jenis-jenis makanan yang disediakan. Pokoknya ribet deh. Untung saya bukan orang Eropa, tapi orang Asia yang pastinya lebih sederhana, tapi bukan berarti kurang beradab, justru bisa dibilang paling beradab. Belum tahu ya, kalo semua peradaban dunia itu asalnya dari Asia? Belajar sejarah deh. (weit…dia sewot… sabar mas..hihihi)

Berikutnya, masuk seorang bapak, dan ternyata dia adalah seorang Bar Tender. Sudah 20 tahun akunya dia menjalani profesinya. Wajar saja dia sangat ahli. Kali ini dia mengajak beberapa mahasiswa membuat minuman ‘world cup’ istilah yang dia buat, sehubungan dengan musim piala dunia. Pertama dia memanggil Mega untuk maju dan membuat sebuah minuman dari bahan campuran antara jus, pepsi biru, dan lain-lain. Maka jadilah segelas minuman berwarna biru-putih dengan hiasan buah cery di atasnya. Berikutnya berturut-turut maju Piyu, Zens, Arifia, Ario dan terakhir Misye.

Menggantikan posisi bapak Bar Tender tadi, tampil seorang ibu yang menjelaskan tentang house keeping (menjaga rumah….ups salah… abis, apaan donk? au ah gelap… yang pasti dia jelasin tentang perlengkapan kamar dsb.) Ibu ini menjelaskan macam-macam perlengkapan hotel, seperti apa yang terdapat di dalam kamar seperti handuk, dan lain-lain. Ribet memang, kalau menurut saya yang kampungan ini. Mau mandi di hotel saja handuknya banyak banget dan diletakkan di tempat yang berbeda lagi. Ada yang untuk lap muka, keset dan badan. Boros sangat, beda dengan saya yang kalo bepergian selalu tampil simpel dan tidak membawa handuk tapi cukup dengan KANEBO.(Ha ha ha… pasti pada ngetawain nih yang baca.) Tapi itu memang benar, cukup dengan kanebo, odol, sabun dan sikat gigi di dalam satu kotak saya bisa menginap dan mandi di mana saja tanpa harus repot-repot jemur handuk di bagasi bis seperti teman-teman mahasiswa yang lain yang merubah bis jadi jemuran handuk terpanjang, dan akhirnya diomelin oleh Pak Nino.

Terakhir ibu tadi meminta seorang OB (office boy…kok OB ya, kan bukan di kantor?.. Ah, salah kaprah nih.) untuk memperagakan cara memasang sprai. Dengan cekatan mas OB tadi mengerjakannya, dan sangat cepat. Sprai yang berlapis tiga itu dikerjakannya hanya kurang dari satu menit. Gile benar. Dan kata si Ibu, standarnya satu kamar yang terdiri dua tempat tidur itu selesai diganti sprainya hanya dalam waktu 1,5 menit. Mantabbbb.

“Busyet dah, keburu laper ini. Kapan mulai makannya? Mana AC nya dingin banget lagi.”, pikir saya dengan kesal. Ternyata pikiran itu juga berkecamuk di kepala beberapa orang yang hadir. Dan rasa dingin dan lapar ini cukup mengganggu. Maklum orang Asia, nggak begitu kuat kena AC, langsung kebelet pipis.

Akhirnya, praktek jamuan makan pun dimulai. Dibuka dengan datangnya roti, ada yang bulat dan ada yang dipotong tipis-tipis, disajikan dengan mentega dan teh atau kopi panas. Untuk mengambilnya pun harus menunggu ditawari oleh pelayan. “Kelamaan, keburu laper.”, kata saya ke Pak Dede yang duduk di samping saya. Sudah itu aturan makannya pun nggak boleh langsung dipegang semua, tapi disobek dulu sedikit diolesi mentega baru dimakan. Benar-benar beda dengan cara kita.

Tidak lama kemudian datanglah sepiring makanan berupa dua potong kue risol (kalau nggak salah) yang dibubuhi saus dan acar timun. Nah, yang satu ini makannya harus menggunakan garpu dan pisau, nggak boleh disentuh langsung. Dipotong kecil-kecil baru di tusuk pake garpu dan dimakan.

Selesai makan risol, dan menyusun pisau dan garpu sesuai yang diarahkan tadi, secara otomatis piring pun langsung diambil oleh pelayan. Nah, kalo salah menyusun pisau garpunya di piring tadi, pelayan nggak mau mengambilnya menurut penjelasan dalam pelatihan tadi. Untungnya saya inget caranya.

Piring kotor sudah diambil, di kiri kanan dan depan saya masih ada tiga pasang lagi alat makan. Berarti masih tiga tahap lagi makanan yang akan keluar. Urutan sendok garpu dan pisau menunjukkan makanan yang akan dihidangkan. Dimulai dari yang terletak paling luar. Dan benar, karena alat makan yang terletak paling luar adalah sendok sup, maka makanan yang datang berikutnya adalah semangkuk sup. Nah, untuk makan sup pun caranya beda. Kita tidak poleh menggerakkan sendok dari luar ke depan muka kita, atau dari kanan ke kiri seperti biasanya kita menyendok kuah di piring. Tapi dari dalam ke luar. Alasannya cukup logis sih, katanya biar supnya tidak tumpah dan mengenai pakaian kita. Tapi yang namanya orang kampung ya tetap kampungan. Sudah diterapkan dengan hati-hati tetap saja tumpah, dan tetesannya menempel di serbet yang ditaruh di pangkuan.

Puncaknya, makanan berat keluar. Sebuah steak daging. Kembali kita harus menggunakan garpu dan pisau untuk memakannya. Potong kecil-kecil, baru di santap. Tapi rasanya kurang pas dilidah saya. Agak enek, dan kurang bumbu. Dan saya nggak sanggup menghabiskan….piringnya (hehehe…). Terakhir, sebagai penutup, datang sepiring buah dan es krim. Lagi-lagi tidak boleh disentuh langsung, tapi menggunakan sendok dan garpu.

Dengan keluarnya hidangan penutup itu, selesai sudahlah rangkaian jamuan makan tersebut. Setelah berbasa-basi sebentar, acara pun ditutup dan kami pun meninggalkan hotel.

Iklan

Posted Sabtu, 17 Juli 2010 by FAS in budaya, Jalan-jalan, Pendidikan, Sejarah

Tagged with , ,

2 responses to “Belajar Makan Ala Eropa

Subscribe to comments with RSS.

  1. inget waktu acara makan di rumah haula arb 95 gak bang fu??
    gw kira makanan utamanya dah kluar, tau2nya ada nasi kebuli..keburu kenyang deh. hm..timur tengah ama eropa cara makannya mirip ya..indonesia aja tuh kalo ktemu makanan kayak org kangen..wkwkwkw

  2. mantap..update

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: