Borobudur dan Malioboro   1 comment

Laporan Perjalanan ODTW Jateng-Jatim-Jogja hari ke-5

Selesai menjalani kursus Table Manner, kami langsung meluncur ke Magelang untuk mengunjungi situs bersejarah yang merupakan salah satu dari keajaiban dunia, Candi Borobudur. Lokasi candi ini terletak 40 km di sebelah barat laut kota Jogja. Dengan bis kami menempuhnya menempuhnya selama 1,5 jam.

Berhubung hari itu adalah hari minggu, suasana di kompleks Borobudur sangat ramai. Ditambah lagi pengelolaan kawasan ini diserahkan kepada sebuah perusahaan (PT), maka tak ayal lagi, nuansa bisnis sangat terasa di sana, bahkan sedikit mirip taman ria. Bahkan ada informasi sebelumnya bahwa camera foto atau video yang dibawa masuk harus bayar tiket juga. “Wah, benar-benar komersil nih”, pikir saya. Setelah mencari tahu dari papan pengumuman harga tiket, ternyata hal itu sudah dihapuskan, hanya tertulis camera/video,tapi harganya dihapus.

Setelah mendapatkan tiket masuk, kami pun masuk satu persatu melewati pintu pemeriksaan tiket. Namun ternyata masih ada satu pintu lagi yang harus dilewati, yaitu pintu metal detector dan pemeriksaan tas/barang bawaan. “Kok jadi menyeramkan ya? Kayak masuk ke istana presiden aja.” Tapi setelah membaca papan pengumuman lagi yang tertera di depan pintu masuk kedua itu, baru saya ngerti bahwa ternyata budaya vandalisme (coret menyoret) di lokasi ini cukup tinggi. Jadi yang namanya spidol dan alat-alat yang diasumsikan akan merusak candi harus diamankan.

Dua pintu sudah dilewati, sekarang terpampang di depan mata kami sebuah candi raksasa yang begitu indah, dihalangi beberapa pohon tinggi di depannya. Kami harus menyusuri trotoar yang cukup panjang, menaiki tangga dan tibalah di candi borobudur yang megah itu.

Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja mataram dinasti Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.(wikipedia.com)

Seperti biasa, di objek ini juga Mas Birin mengambil nilai pemanduan mahasiswa 2009. Dimulai dari Maryana, kemudian dilanjutkan oleh Ingrid, Harry dan terakhir Desti. Sementara itu, ternyata mereka juga mendapat tugas mewawancarai bule-bule menanyakan pendapat mereka tentang objek wisata yang dikunjungi.

Waktu satu setengah jam yang dipatok oleh tour leader kami untuk menjelajahi candi ini ternyata tidak cukup. Kami ternyata molor satu jam, itu pun tetap dirasa belum puas untuk menjelajahi setiap sudut candi ini. Namun karena waktu yang mepet kami harus segera turun dan kembali ke bis untuk kembali ke Jogja dan mengunjungi wisata belanja di Malioboro yang terkenal itu.



Malioboro

Jalan pulang menuju kota Jogja ternyata cukup padat. Apalagi di beberapa titik terdapat penyempitan jalan karena sedang proses perbaikan. Jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam, tapi kami masih terkena macet, sementara kami harus mampir makan malam dulu di sebuah rumah makan.

Pemandangan seperti di kota Batu Malang pun terlihat lagi. Belum selesai dosen-dosen menghabisi santapannya, para mahasiswa sudah duduk rapi di dalam bis. Ternyata mereka sudah tidak sabar lagi tiba di Malioboro. Melihat hal ini, saya dan teman dosen yang lain termasuk Pak Agus, supir bis kami habis-habisan mengerjai mereka selama perjalan ke Malioboro.
“Waduh… kayaknya kita nggak bisa cepat sampai di Malioboro nih Pak Fuad.” Kata Pak Agus ngeledek anak-anak.
“Yaaahhh.” Sorak anak-anak di belakang.
Mendengar anak-anak mulai kesal, Pak Dede menggoda lagi,”Pak Agus, Cari pom bensin dulu donk, saya kebelet pipis nih.”
“Ha ha ha…”, kami tertawa terpingkal pingkal melihat reaksi para mahasiswa yang tambah kesal dicandai terus sepanjang jalan. Mereka benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk menyalurkan syahwat belanjanya di Malioboro. Apalagi waktu benar-benar mepet. Sudah hampir jam 9 malam ketika kami sampai di lokasi parkir.

Mereka pun langsung berhamburan, terbirit-birit menuju jalan Malioboro yang tertapa rapi itu. Waktu satu jam yang dipatok oleh tour leader, benar-benar tidak dipatuhi. Sepertinya mereka tidak peduli, yang penting bisa belanja, beli oleh-oleh buat keluarga atau pacar. Bahkan sampai sebagian toko tutup pun masih beberapa gelintir yang kembali ke bis. Dan akhirnya setelah mereka semua kembali dengan tentengan di kiri dan kanan, kami pun kembali ke penginapan untuk istirahat, menyiapkan tenaga untuk bertualang esok harinya di dataran tinggi Dieng.

Bersambung

Iklan

Posted Sabtu, 17 Juli 2010 by FAS in budaya, Jalan-jalan, Pendidikan, Sejarah

Tagged with ,

One response to “Borobudur dan Malioboro

Subscribe to comments with RSS.

  1. blog saya udah keren paa….liat dach,tinggal tulisannya dong yg masih jadul
    hahahahahha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: