Gapura Wringin Lawang Sisa Kejayaan Majapahit   Leave a comment

Laporan Perjalanan ODTW Jateng-Jatim-Jogja hari ke-4

Tujuan kami setelah Gunung Bromo pada hari ke-5 perjalanan kami mengelilingi Jawa adalah kota Jogjakarta. Namun, konsep sambil menyelam minum air pun di terapkan, Tour leader kami sudah menetapkan 2 objek wisata sejarah yang bisa disinggahi di tengah perjalan menuju Jogja, yaitu Gapura Wringin Lawang dan Museum Trowulan.

Sebelum tiba di lokasi, kami sempat beristirahat makan siang dan sholat di daerah Gempol. Selanjutnya bis meluncur menuju kota Mojokerto. Di kota ini lah dua objek tadi berada. Namun sangat di sayangkan, perjalanan kami menuju lokasi terpaksa memutar jauh dan memakan waktu yang cukup lama karena jalan yang seharusnya kami lewati ditutup untuk kenderaan besar, sebab sedang ada perbaikan jembatan. Jadilah kami kesorean tiba di lokasi, dan museum Trowulan pun sudah ditutup. Namun begitu, kekecewaan kami masih bisa terbayar, karena situs Gapura Wringin Lawang masih bisa kami kunjungi, walaupun penjaganya sudah hilang dari tempatnya bertugas. Karena letaknya yang berada di perkampungan penduduk, kami langsung menerobos masuk saja, tanpa kulonuwun atau assalamu alaikum.

Dengan sigap Mas Birin memerintahkan Oni, mahasiswa 2009 yang mendapat giliran ujian pemanduan di tempat ini beraksi. Dengan modal sebisanya ia berusaha menjelaskan situs tersebut. Dan seperti biasanya, penjelasan berikutnya dilanjutkan oleh Mas Birin sendiri. Manusia yang satu ini memang seperti Galileo saja pinternya. Apapun dan di mana pun kita berada ada saja penjelasan yang keluar dari mulutnya.

“Wringin Lawang merupakan candi bentar, yaitu gapura tanpa atap. Candi bentar biasanya berfungsi sebagai gerbang terluar dari suatu kompleks bangunan. Gapura ini merupakan gapura menuju salah satu kompleks bangunan yang berada di kota Majapahit.”, Tegas Mas Birin.

Kata Wringin merupakan bahasa Jawa yang berarti pohon beringin. Sementara Lawang berarti pintu gerbang. Konon dahulu di dekat candi ini terdapat pohon beringin yang besar sehingga candi ini dinamakan Candi Wringin Lawang.

Setelah puas mempelajari candi Wringin Lawang, kami pun segera meluncur menuju Jogja. Dan kami mampir di rumah makan padang di daerah Madiun untuk istirahat, makan malam dan sholat. Kami baru memasuki kota Jogja kurang lebih pukul 11 malam dan langsung ke penginapan di jalan Veteran lalu istirahat.

Iklan

Posted Sabtu, 17 Juli 2010 by FAS in budaya, Jalan-jalan, Pendidikan, Sejarah

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: