Dieng Tanah Para Dewa   2 comments

Laporan Perjalanan ODTW Jateng-Jatim-Jogja hari ke-6


Jam 8 pagi bis sudah berangkat meninggalkan penginapan. Bis bergerak menuju Wonosobo, sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang terletak di dataran tinggi. Di sini kami akan mengunjungi sebuah lokasi wisata alam dan wisata sejarah, yaitu Dieng.

Dieng berasal dari bahasa sansekerta yaitu “Di” yang berarti tempat yang tinggi atau gunung dan “Hyang” yang berarti kahyangan. Dengan menggabungkan kedua kata tersebut, maka bisa diartikan bahwa “Dieng” merupakan daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Di daerah ini teradapat banyak daya tarik wisata berupa objek wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya dan wisata belanja.

Pukul satu siang kami tiba di tempat pergantian bis dengan elf (bis kecil). Setelah makan siang, kami pun berangkat menggunakan 4 elf menyusuri desa-desa yang asri dengan kebun-kebun kentang dan sayuran lainnya. Jalan yang berkelok-kelok dan berbukit-bukit menjadi daya tarik tersendiri. Bau menyengat pupuk kandang di beberapa lokasi yang kami lewati menjadi ciri khas lainnya. Beberapa kali kami harus menutup hidung, menahan bau yang tidak sedap.

Kurang lebih satu jam kami menyusuri jalan berliku dan mendaki akhirnya kami tiba di Dieng Flateau Theater. Seorang bapak berkemeja biru dengan rompi hitam dan berkaca mata dengan semangat 45 menggiring kami dengan megapon memasuki teater tersebut. Sebuah film dokumenter berdurasi 10 menitan tentang dieng diputar.

Selesai menyaksikan film dokumenter, Pak Wijaya, Bapak yang bombastis itu berteriak lagi dengan megaponnya mengarahkan kami menyusuri tangga di belakang teater menuju sebuah telaga atau danau. Telaga warna namanya. Disebut telaga warna karena sering menampilkan warna yang berubah-ubah dari waktu ke waktu, seperti warna merah, hijau, biru, putih. Benar-benar pemandangan yang indah. Namun sayang, Pak Jaya yang Sang Pemandu kami sangat terburu-buru menggiring kami naik ke bis elf untuk menuju lokasi berikutnya.

Bergerak beberapa menit berikutnya dengan elf, sampailah kami di Kawah Sikidang. Kawah ini merupakan kawah aktif yang banyak dikunjungi wisatawan. Dari bibir kawah, terlihat semburan lava dan kepulan asap serta aroma belerang yang khas. Di lubang kawah tampak jelas berisi air dan lava berwarna kelabu, yang gemulak dan mendidih.

Dari kawah Sikidang, kami melanjutkan perjalan ke sebuah museum. Dalam perjalan menuju museum, kami melewati sebuah perkampungan, dan inilah kampung yang kata supir elf kami terdapat bocah-bocah yang berambut gimbal. Rambut gimbal itu, konon merupakan kutukan dari dewata. Dan pada saatnya akan dicukur dengan sebuah upacara adat.

Melewati perkampungan anak-anak gimbal, kami pun tiba di Museum Dieng Kailasa. Museum ini menyimpan artefak dan memberikan informasi tentang alam (geologi, flora-fauna), masyarakat Dieng (keseharian, pertanian, kepercayaan, kesenian) serta warisan arkeologi dari Dieng. Museum ini juga memiliki teater untuk melihat film tentang arkeologi Dieng, panggung terbuka di atas atap museum, serta restoran.

Selesai mengunjungi museum Kaliasa, Bapak yang super atraktif tadi mengajak kami menuju kompleks candi Arjuna. Objek ini berada di seberang museum, menyusuri trotoar dengan kiri kanannya kebun dan rawa-rawa. Kurang lebih 200 meter berjalan kaki kami tiba di sebuah pelataran yang di tengahnya tersusun lima bangunan candi, terdiri atas candi Arjuna, candi Semar, candi Srikandi, candi Puntadewa, dan candi Sembadra. Kelompok candi ini merupakan candi hindu dan diperkirakan dibangun tidak bersamaan waktunya. Dahulu kala, kelompok candi ini digunakan sebagai tempat pemujaan.

Puas mengunjungi lokasi wisata yang ada di Dieng, kami pun kembali ke tempat pergantian bis. Sebelumnya kami dibawa berjalan ke lokasi wisata belanja. Di sini ada dua produk khas yaitu Carica, yaitu sebuah manisan terbuat dari buah carica, buah pepaya mini khas Dieng. Selain itu ada sebuah minuman yang berfungsi sebagai jamu untuk kesegaran atau sebagai obat kuat, purwaceng namanya.

Iklan

Posted Senin, 26 Juli 2010 by FAS in budaya, Jalan-jalan, Pendidikan, Sejarah

Tagged with , , ,

2 responses to “Dieng Tanah Para Dewa

Subscribe to comments with RSS.

  1. salam kenal Pak,,
    saya adityo mahasiswa arsitektur lanskap IPB
    mau kunjungan ke Dieng desember nanti..

    mau tanya
    bis / elf menuju ke dieng dari wonosobonya naik apa??apakah ada bis charteran??karena kami rombongan 70 orang..

    mohon infonya..
    terima kasih

  2. makasih bapak, informasi yg sangat membantu memajukan daerah tujuan wisata khususnya Dataran Tinggi Dieng. Saya putra bungsu nya bpk AA. R Wijaya (Pemandu Wisata). Lain waktu jika ada tur ke dieng lagi silahkan bisa hubungi saya atau Pak AA. Trim’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: