Archive for the ‘Anekdot’ Category

Bisa Pakai Lilin   2 comments

Satu pasangan muda sangat bersuka cita demi mengetahui sang istri hamil muda. Namun sebelum mendapat kepastian dari dokter, mereka sepakat untuk merahasiakan kehamilan tersebut.

Istri : “Pak, nggak usah diomongin dulu ya… takut gagal, ‘kan nggak enak kalau sudah diomong-omongin.”
Suami : “Oke deh, Ma, janji nggak bakalan diomongin sebelum ada konfirmasi dokter.”

Tiba-tiba datang karyawan PLN ke rumah mereka untuk menyerahkan tagihan dan denda tas tunggakan rekening listrik mereka bulan lalu.

Petugas PLN : “Nyonya terlambat satu bulan.”
Istri : “Bapak tahu dari mana? Papa… Tolong nih bicara sama orang PLN ini.. !”
Suami : “Eh, sembarangan… bagaimana Anda bisa tahu masalah ini?”
Petugas PLN : “Semua tercatat di kantor kami, Pak.”
Suami : (Tambah sengit) “Oke, besok saja saya ke kantor Bapak untuk menyelesaikan masalah ini.”

Keesokan harinya…
Suami : ” Bagaimana PLN tahu rahasia keluarga saya?”
Petugas PLN : “Ya tahu dong, lha wong ada catatannya pada kami.”
Suami : “Jadi saya harus bagaimana agar berita ini dirahasiakan, Pak?”
Petugas PLN : “Ya, mesti bayar dong, Pak!”
Suami : (Sialan gue diperas nih!) “Kalau saya tidak mau bayar, bagaimana?”
Petugas PLN : “Ya, punya Bapak terpaksa kami putus…”
Suami : “Lha, kalo diputus…nanti istri saya bagaimana….?”
Petugas PLN : “Kan bisa pakai lilin”

dikutip dari :
Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif: Suatu pendekatan Lintas Budaya, Rosda,2004

Iklan

Posted Selasa, 14 Juli 2009 by FAS in Anekdot

Tagged with , , ,

Pisang Sale   1 comment

Suatu ketika, Milad pergi ke kota dengan menumpang kereta. Namun belum sampai ke kota, dia sudah tertimpa kesialan. Dompetnya hilang disambar copet sialan. Hilanglah semua keinginannya berkeliling kota yang jarang sekali ia kunjungi karena terlalu sibuk bekerja di kampungnya.

Sesampainya di stasiun ia pun tak berani pergi jauh melihat-lihat indahnya kota, karena takut capek dan haus. Akhirnya ia hanya duduk di depan stasiun sampai hari menjelang tengah hari.

Setelah telah,ia pun memutuskan pulang kembali ke kampungnya. Namun ia tak bisa membeli tiket kereta, dan pengawasan di pintu masuk peron sangat ketat, sampai akhirnya ia terpaksa berjalan kaki menyusuri rel kereta menuju kampungnya.

Teriknya sinar matahari membuat keringat jagung bercucuran di sekujur tubuhnya. Rasa lelah, haus dan lapar sudah tak tertahankan lagi. Perut rasanya melelit karena cacing diperutnya menggerogoti lambung dan ususnya, marah karena sudah lama tidak diberi makan.

Jauhnya perjalanan membuatnya kelimpungan. Kepalanya mulai pusing dan mata berkunang-kunang. Tiba-tiba ia berhenti. Matanya ia pelototkan agar jelas melihat benda yang ada di hadapannya. Coklat panjang dan kering. Milad berpikir, apa gerangan benda ini. Rasa laparnya membuatnya berpikir bahwa itu seuatu yang dapat dimakan.
“Ini pasti pisang sale.”, pikirnya. “Pasti sesorang di kereta tak sengaja menjatuhkanya, ketika akan memakannya.Ah bersyukurnya aku.”

Tangan Milai mulai meraih pisang sale itu. Tapi tiba-tiba ia berhenti. Pikiran lain membisikannya,”Mana mungkin ini pisang sale, ini pasti tai kering. Ah, hampir saja aku menjadi manusia terbodoh di dunia”

Milad pun langsung meninggalkan benda itu dan melanjutkan perjalannannya. Namun beberapa langkah ke depan, rasa laparnya mempengaruhi pikirannya lagi, “Ah bodoh kau ini, menyia-nyiakan rezeki dari Tuhan. Itu pasti pisang sale. cepat kembali dan ambil, lalu makan!”

Tanpa pikir panjang, ia pun berbalik arah. Dan ketika ia akan meraih benda itu, terjadi lagi perdebatan dalam kepalanya.
“Tai kering!”
“Bukan, pisang sale !”
“Gila kau, itu tai kering!”
“Kau yang gila,itu pisang sale!”

Beberapa lama perang itu berkecamuk dalam otaknya, sampai akhirnya ia harus mengambil keputasan. Dia menenangkan diri sejenak, menarik nafas yang dalam dan langsung mengambil keputusan untuk mengambil benda itu. Dan tangannya pun menyentuh benda itu dan memencetnya. Akhirnya,”Tu kan tahi kering……”

Posted Selasa, 14 Juli 2009 by FAS in Anekdot

Tagged with ,