Archive for the ‘Bahasa’ Category

Mau Eksis? Jangan Diam, Plis.   2 comments

“Mau eksis? Jangan lebay plis.” Begitu kata sebuah iklan di TV. Iklan itu menggambarkan seorang pemuda yang berbuat ‘lebay’ (istilah anak muda sekarang untuk ‘berlebihan’) dengan menulis status-status bohong di facebooknya, hanya untuk menunjukkan bahwa dia eksis.

Eksis (bentuk ringkas dari eksistensi diri) adalah sebuah kebutuhan psikologis manusia. Semua orang pasti butuh dianggap ada, diakui keberadaannya, didengar pendapatnya. Seorang anak pasti akan sangat sakit bila diacuhkan oleh orang tuanya. Mahasiswa akan kesal bila dosennya pilih kasih, hanya perhatian kepada yang pintar-pintar dan baik-baik saja. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Posted Selasa, 16 Maret 2010 by FAS in Bahasa, budaya, Motivasi, Pendidikan

Tagged with , ,

Humaniora   Leave a comment

Oleh: J Drost

APAKAH dalam pendidikan kita ada unsur humaniora? Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu lebih dulu menjawab pertanyaan: “Apa itu humaniora?” Yang disebut human sciences, atau humanities, bukanlah humaniora. Bahkan, disiplin-disiplin yang tergolong dalam human sciences belum ada, ketika humaniora dibentuk.

Dalam humaniora klasik, bahasa tidak disebut sebagai disiplin. Maka, bahasa Latin bukan unsur humaniora. Bahasa Latin, yang karena perkembangan historis, merupakan bahasa yang dipakai sebagai lingua franca, seperti halnya bahasa Melayu yang dulu merupakan lingua franca di Indonesia. Bahkan bahasa Latin bukan merupakan bahasa “dasar”. Bahasa yang paling tua di Eropa dan sebagian dari Asia adalah bahasa Indo-European.

Bahasa Yunani, Celtic, Italic, Germanic, Slavic, Baltic, dan Indo-Iranian merupakan anak bahasa. Bahasa Latin adalah dialek dari bahasa Italic. Selain itu, bahasa Latin tidak pernah menghasilkan karya filosofis, drama, dan literatur yang berarti. Kebanyakan karya Latin adalah mengenai hukum, administrasi, dan politik.

Namun, karena suku Latinum berhasil merebut kekuasaan di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika Utara, mereka berhasil menjadikan bahasa Latin sebagai bahasa pemerintah dengan mendesak bahasa Yunani sebagai bahasa budaya. Karya Yunani tidak pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, tetapi diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan lewat Spanyol dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Baca entri selengkapnya »

Posted Jumat, 12 Maret 2010 by FAS in Bahasa, budaya, Motivasi, Pendidikan

Tagged with , , , ,

Pengenalan AKSARA LATIN di Indonesia   3 comments

053AKSARA LATIN pertama kali mulai dikenalkan secara resmi pada 1536, yakni melalui sekolah pertama di Indonesia yang didirikan di Ambon oleh penguasa Portugis, Antonio Galvao. Orang-orang di Ambon mengenal bahasa Melayu melalui karya misioner Fransiscus Xaverius. Pastor ini meminta seseorang di Malaka menerjemahkan ayat-ayat pegangan Nasrani, “Doa Bapa Kami”, “Salam Maria”, dan “Syahadat Rasuli”, dan berkeliling membawa lonceng di Ambon dan sekitarnya. Siapa yang bisa menghafal ayat-ayat pegangan itu lantas dibabtis di bawah nama Bapa, Putra, dan Rohkudus.

Tapi baru satu abad kemudian kitab suci Nasrani dicetak dalam bahasa Melayu. Dan sejauh ini, kitab itu lah yang boleh dikata sebagai cetakan tertua dalam sejarah pustaka Indonesia bertuliskan latin, dikerjakan oleh Brouwerius, diterbitkan pada 1663.

Manakala Belanda berhasil mengalahkan Portugis, didapatnya orang-orang di Ambon-sebagai pusat rempah-rempah yang menjadi tujuan utama penjajahan bangsa-bangsa Barat- telah mengenal bahasa Melayu. Melihat kenyataan ini, kemudian Belanda memanfaatkan bahasa Melayu sebagai bahasa administratif.

Dalam perkembangannya di kemudian hari, orang Belanda juga mengajar orang-orang di Ambon dan Maluku berbahasa Melayu. Salah seorang yang paling penting adalah Josef Kam, Pendeta Protestan lembaga NZG (Nederlands Zendelingen Genootschap).

Di masa penjajahan Belanda inilah bahasa Melayu-tinggi sebagai kosokbali Melayu-pasar, dilembagakan lewat satu-satunya kitab yang dikeramatkan oleh Belanda, yaitu:

“El Khawlu’l Djadid, ija itu segala surat perdjanjian baharuw, atas titah segala tuwan pemarentah kompanija, tersalin kepada bahasa Melajuw”

Pengaruh bahasa Arab merupakan ciri perdana bahasa Melayu-tinggi tersebut. Tulisan-tulisan sastra lama Melayu yang ditulis dengan Arab gundul, di masa ini, juga ditransliterasi oleh Belanda menjadi buku-bukku penting dengan aksara Latin, misalnya Hang Tuah dan Sejarah Melayu.

Dikutip dari : Alif Danya Munsyi, Bahasa Menunjukkan Bangsa, Jakarta, KPG, 2005, hal 55-56.

Antara SunnaH dan SunnaT   1 comment

Kita sudah sama-sama tahu bahwa banyak sekali kata-kata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Asing. Bahkan Alif Danya Munsyi mengatakan bahwa 9 dari 10 kata bahasa Indonesia adalah asing. Nah lo, kok bisa? Ini membuktikan bahwa Kebangsaan Indonesia merupakan hasil silang budaya, bukannya monopoli kebudayaan tertentu. Begitu tegas Alif.

Arab, adalah salah satu bahasa yang cukup banyak menyumbangkan kata-katanya ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini terjadi sebagai bentuk persentuhan Arab dan Indonesia ketika proses penyebaran Islam berlangsung secara intensif.

Salah satu ciri bahasa Arab, khususnya kata benda atau isim, adalah mengandung tha’marbuthoh di belakang kata yang menunjukkan jenis perempuan, seperti muslimatun (bentuk perempuan dari muslim), atau penanda bilangan tunggal untuk kata-kata yang bermakna jamak, seperti: syajaratun ‘sebatang pohon'(bentuk tunggal dari syajarun), namlatun ‘seekor semut (bentuk tunggal dari namlun) dan lain sebagainya. Baca entri selengkapnya »

Posted Selasa, 14 Juli 2009 by FAS in Bahasa

Tagged with , , , ,

Ilmu Bahasa (bag 8)   1 comment

C. An-Nahwu ( Sintaksis )

Ash-Sharf hanya membahas kata dalam keadaan berdiri sendiri. Pembahasannya hanya berkisar pada pencirian jenis kata, dan proses pembentukkannya (tashri:f) saja. Ash-Sharf tidak membahas hubungan antara satu kata dengan kata lainnya dalam satu rangkaian kalimat atau frase. Untuk membicarakan kata dalam satu rangkaian dengan kata-kata lainnya tata bahasa al-Quran membahasnya dalam satu ilmu khusus yang diistilahkan dengan an-nahwu (sintaksis) atau sering juga disebut al-i’rab: b. Secara umum pembahasan pada tataran ini akan berkisar pada satuan dan struktur sintaksis. Pembahasan tentang kedua hal ini tidak bisa dipisah-pisahkan, karena hubungan antara yang satu dengan yang lainnya sangat erat. Baca entri selengkapnya »

Posted Minggu, 18 Januari 2009 by FAS in Bahasa

Tagged with , , , , , , , , , , , ,

Ilmu Bahasa (bag 7)   Leave a comment

B. Ash-Sharf ( Morfologi )
Kata merupakan salah satu bagian dari sistem bahasa. Dalam tataran sintaksis kata merupakan bagian atau anggota sistem terkecil. Artinya bahwa apabila sebuah kalimat atau frase kita urai menjadi bagaian-bagiannya, maka kita dapati bahwa bagian terkecilnya adalah kata. Atau dengan kata lain, kalimat atau frase adalah suatu sistem bahasa yang pada intinya merupakan kumpulan kata-kata. Tanpa adanya kata, frase atau kalimat tidak akan ada.

Akan tetapi, selain sebagai anggota terkecil dalam sebuah sistem kalimat atau frase, kata juga merupakan sebuah sistem. Ia terbentuk dari gabungan huruf-huruf, dengan suatu pola tertentu, dan memiliki makna tertentu.  Baca entri selengkapnya »

Posted Minggu, 18 Januari 2009 by FAS in Bahasa

Ilmu Bahasa ( bag 6)   4 comments

TATA BAHASA AL-QURAN

Telah dijelaskan bahwa bahasa adalah sebuah sistem. Sebagai sistem bahasa terdiri atas unsur-unsur penyusun. Berbeda dengan unsur-unsur penyusun sistem lain, unsur-unsur penyusun sistem bahasa bersifat hirarki. Ini berarti bahwa unsur-unsur bahasa itu juga merupakan sistem yang tersusun dari unsur-unsur yang lebih kecil. Sebuah wacana merupakan unsur bahasa yang tersusun dari unsur-unsur yang lebih kecil darinya, yaitu kalimat. Selain itu kalimat juga tersusun dari unsur-unsur yang lebih kecil lagi, yaitu kata, dan kata tersusun dari unsur yang terkecil dari sistem bahasa, yaitu huruf.  Baca entri selengkapnya »

Posted Minggu, 18 Januari 2009 by FAS in Bahasa

Tagged with , ,