Archive for the ‘Opini’ Category

Infotainment, Ghibah dan Babi   1 comment

Hanya dengan sebuah ‘kicauan’ seorang Luna Maya yang lembut ternyata bisa mengguncang Indonesia. Itu lah yang terjadi beberapa hari yang lalu. Melalui Twitter, sebuah jejaring sosial, Luna memaki infotainmet dengan kata-kata yang dianggap menghina dan mencemarkan nama baik. Para pekerja infotaiment pun sontak marah. Mereka segera melaporkan Luna ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik, penginaan dan fitnah. Tidak tanggung-tanggung mereka menggunakan ‘pasal karet’ UU ITE untuk menjerat Luna dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara dan denda maksimal 1 milyar rupiah.

Belum lagi polisi bereaksi memanggil Luna, kasus ini semakin heboh ketika sebagian wartawan menyesalkan rekan-rekan mereka sesama wartawan yang melaporkan Luna ke polisi. Mereka menganggap hal ini terlalu berlebihan, apalagi sampai menggunakan UU ITE. Usaha damai pun mereka usahakan, namun belum berbuah hasil.

Tidak hanya itu, heboh pun semakin semarak ketika beberapa TV mendiskusikan hal ini dengan menampilkan kelompok yang pro dan kontra. Jadilah semakin ramai, ketika para wartawan yang diundang bicara ribut sesama mereka sendiri tentang kode etik jurnalistik, makna berita, kebebasan berekspresi, bahkan tentang status kewartawanan mereka.

Terakhir, setelah heboh Luna Maya menghiasi media, muncul pro dan kontra di facebook, twitter dan jejaring sosial lainnya, pada ulama pun ikut turun tangan. MUI dan PBNU mengumumkan ulang tentang fatwa haram Ghibah yang pernah mereka keluarkan beberapa tahun sebelumnya. Kalau MUI lebih malu-malu hanya dengan menyatakan ghibah nya saja yang haram dan tidak melarang tayangan infotainment, PBNU lebih tegas dengan pernyataannya bahwa infotainment gosip haram, dan meminta media menghentikan tayangan ini (baca kompas).

Yang jadi permasalahan, mengapa sih MUI tidak mau tegas ‘mengharamkan’ infotainment? Kalau hanya mengharamkan ghibah, tanpa perlu fatwa MUI pun dari sananya ghibah sudah haram, karena itu ketentuan agama, sama halnya seperti haramnya babi untuk dikonsumsi. Tapi, mengapa untuk kasus babi, MUI sangat teliti (kalau tidak mau disebut berlebihan), sampai-sampai semua produk yang mengandung unsur babi, seperti enzimnya pun difatwakan haram. Kita mungkin masih ingat kasus vaksin meningitis untuk jama’ah haji tahun ini, yang disebut-sebut mengandung enzim babi, sampai-sampai menimbulkan kebingungan di sebagian jama’ah yang akan berangkat.

Kalau mengikuti fatwa MUI tentang babi, yang sampai-sampai semua produk makanan/minuman/obat/kosmetika harus mendapat sertifikat halal dulu baru boleh diperjualbelikan, bukankah seharusnya infotainment sebagai salah satu produk yang menjadikan ghibah sebagai salah satu bahan bakunya juga harus dinyatakan keharamannya? Atau jangan-jangan ghibah tidak lebih berbahaya dari pada babi, sehingga kadar keharamannya lebih rendah daripada babi? Tanya kenapa.

Posted Minggu, 27 Desember 2009 by FAS in Berita, budaya, Opini, Pendidikan

TEWAS = TIDAK SELAMAT ?   2 comments

Hkg2810210Bencana sepertinya masih sangat senang bermain-main di bumi pertiwi ini. Satu bencana belum selesai ditangani, bencana lain yang lebih hebat datang menerjang dan memporak-porandakan aset bangsa ini. Tidak hanya harta benda, ratusan nyawa anak-anak bangsa pun melayang, disamping ribuan lainnya terluka. Bangsa ini pun berduka, menangisi apa yang terjadi.

Ketika ini semua terjadi, pikiran logis kita seolah lenyap terkena longsoran, retak-retak, bahkan ambruk digoncang gempa dahsat. Kita hampir-hampir tidak mampu lagi membedakan benar dan salah. Salah satunya yang menurut saya sangat fatal adalah kita hampir selalu menyebutkan istilah korban yang tewas dan yang selamat sebagai dua kata yang berlawanan. Sehingga bisa diartikan tewas sama dengan tidak selamat, dan sebaliknya.

Tidak hanya itu, kita bahkan menangisi sejadi-jadinya mereka yang tewas dan mensyukuri mereka yang selamat, walaupun terluka cukup parah. Intinya tewas sama dengan tidak selamat.

Apakah hal ini bisa dibenarkan? Sebagai orang yang beragama Islam kita sudah sangat sering mendengar bahwa Allah pasti akan memberi mushibah kepada setiap manusia berupa rasa takut, rasa lapar, hilangnya harta benda, dan hilangnya nyawa manusia. Semua itu hanya untuk menguji rasa sabar dalam diri setiap mukmin. Sehingga seorang mukmin yang sabar pasti akan menerima kenyataan dengan lapang dada bahwa semua yang dia miliki berasal dari Allah dan akan kembali kepadanya. (Lihat: Al-baqarah 155-156).

Apakah mereka yang mati/tewas karena bencana atau kecelakaan bisa disebut tidak selamat? Tentu saja tidak. Bencana hanya sebab, tapi kematian adalah kepastian. Tanpa bencana pun manusia pasti mati. Dan yang menentukan dia selamat atau tidak adalah kualitas iman dan amalnya selama hidup. Bisa jadi mereka yang tewas dalam benca itu adalah orang-orang sudah dinilai selamat hidupnya oleh Allah, sehingga tiada alasan untuk menolak kematian, karena mereka pasti akan menerima kenikmatan. Dan bisa jadi mereka yang dibiarkan hidup, sengaja diberi tangguh, agar bisa memperbaiki kualitas keimanan dan amalnya, demi mencapai keselamatan dunia dan akhirat.

Sementara kita yang tidak terkena bencana, bersyukurlah kita, karena kita masih dikasih waktu untuk memperbaiki kualitas keimanan dan amal kita. Jangan sampai kita menjadi orang-orang bodoh, yang tidak mampu mengambil pelajaran dari semua bencana yang terjadi. Semoga kita semua sadar. (Jakarta, 9 Oktober 2009)

Blogged with the Flock Browser

Posted Jumat, 9 Oktober 2009 by FAS in Opini

Tagged with , , ,