Supir Truk, Candi Singhasari dan Gunung Kawi   1 comment

Laporan Perjalanan ODTW Jateng-Jatim-Jogja (hari-2)

Dan Supir Truk lah Yang Merusaknya.
Matahari belum lagi mengintip, namun sebentar lagi waktu subuh berakhir. Tapi mengapa bis kami tidak bergerak sama sekali? Saya pun langsung turun dari bis ketika terbangun dan melihat Pak Supir dan kernetnya tidak berada di posisi masing-masing. “Gila! Ini sih bukannya macet, tapi parkir.”kata saya dalam hati ketika melihat deretan bis, truk dan kenderaan lainnya yang memanjang ratusan meter ke depan dan ke belakang bis kami. Beberapa orang dari rombongan kami juga ikut keluar dari bis, untuk mencari tempat buang air kecil atau sholat subuh. Ada Mushola di seberang kanan jalan, tapi tidak ada toiletnya dan pintu ke ruang sholat pun terkunci. Akhirnya saya sholat di pelatarannya yang rada berdebu. Sementara teman-teman yang lain hilang entah ke mana mencari alternatif lain. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Posted Sabtu, 10 Juli 2010 by FAS in Artikel, Berita, budaya, Jalan-jalan, Pendidikan, Sejarah

Dari Fleksibel, Penguasaan Lapangan Sampai Berani Menghadapi Rasa Takut   1 comment

Laporan Perjalanan ODTW Jateng-Jatim-Jogja (hari-1)

Lagi-lagi saya beruntung diajak lagi kegiatan ODTW mahasiswa pariwisata UNJ. Tak tanggung-tanggung perjalanan kami kali ini lebih jauh dan lebih lama dari ODTW sebelumnya. Kalau semester sebelumnya kami sudah mengelilingi Jawa Barat, kali ini kami mengelilingi Jawa Tengah, Jogja dan Jawa Timur. Seperti biasa, perjalanan kami menggunakan jasa tour Wiyata, sebuah jasa perjalanan wisata yang sudah tidak asing lagi bagi kalangan kampus UNJ, khususnya bagi Prodi D3 Pariwisata.

Dengan menggunakan 2 bis blue star ber-AC, kami berangkat rabu pagi, tanggal 23 Juni 2010 dari kampus UNJ. Perjalanan yang semestinya dimulai pukul 8 tepat, terpaksa tertunda karena beberapa hal, salah satunya yang sepertinya sudah menjadi kebiasaan, telatnya kehadiran beberapa peserta. Hal ini jelas membuat jengkel, apalagi sebagian besar peserta sudah hadir sejak pukul setengah delapan. Baca entri selengkapnya »

Posted Sabtu, 10 Juli 2010 by FAS in Berita, budaya, Jalan-jalan, Pendidikan, Sejarah

Tagged with , , ,

Guru Yang Dirindukan   2 comments

Murid-murid kita itu akan menjadi guru-guru masa depan yang hebat apabila mereka rindu belajar dan rindu sekolah. Dan yang membuat mereka rindu belajar dan rindu sekolah adalah kalau mereka rindu kepada gurunya.

Posted Senin, 19 April 2010 by FAS in Motivasi, Pendidikan, Video

Tagged with

Masterpiece Karya Allah: Menemukan Kembali Al Qur’an   Leave a comment

Oleh : Emha Ainun Najib

Rata-rata 4 kali perminggu saya mengalami forum dengan ratusan atau ribuan orang. Kalau di luar negeri, tentulah audiensnya puluhan atau ratusan, kecuali di Malaysia. Sekitar 85% audiensnya adalah orang beragama Islam. Forum itu sendiri 60% acara Kaum Muslimin, 30% umum, 10% forum khusus saudara non-Muslim. Perjalanan keliling itu berlangsung puluhan tahun, dan sepuluh tahun terakhir ini frekwensinya meningkat sekitar 30%.

Tentu sangat banyak saya berguru pada mereka, sangat tidak seimbang dengan amat sedikitnya manfaat yang saya bisa kontribusikan. Saya, sendiri atau bersama KiaiKanjeng, berposisi amat berterima kasih kepada publik, sementara hak kami untuk diterimakasihi sangat sedikit. Baca entri selengkapnya »

Posted Minggu, 18 April 2010 by FAS in Artikel, budaya, Motivasi, Pendidikan

Tagged with , , , ,

Mau Eksis? Jangan Diam, Plis.   2 comments

“Mau eksis? Jangan lebay plis.” Begitu kata sebuah iklan di TV. Iklan itu menggambarkan seorang pemuda yang berbuat ‘lebay’ (istilah anak muda sekarang untuk ‘berlebihan’) dengan menulis status-status bohong di facebooknya, hanya untuk menunjukkan bahwa dia eksis.

Eksis (bentuk ringkas dari eksistensi diri) adalah sebuah kebutuhan psikologis manusia. Semua orang pasti butuh dianggap ada, diakui keberadaannya, didengar pendapatnya. Seorang anak pasti akan sangat sakit bila diacuhkan oleh orang tuanya. Mahasiswa akan kesal bila dosennya pilih kasih, hanya perhatian kepada yang pintar-pintar dan baik-baik saja. Baca entri selengkapnya »

Posted Selasa, 16 Maret 2010 by FAS in Bahasa, budaya, Motivasi, Pendidikan

Tagged with , ,

Humaniora   Leave a comment

Oleh: J Drost

APAKAH dalam pendidikan kita ada unsur humaniora? Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu lebih dulu menjawab pertanyaan: “Apa itu humaniora?” Yang disebut human sciences, atau humanities, bukanlah humaniora. Bahkan, disiplin-disiplin yang tergolong dalam human sciences belum ada, ketika humaniora dibentuk.

Dalam humaniora klasik, bahasa tidak disebut sebagai disiplin. Maka, bahasa Latin bukan unsur humaniora. Bahasa Latin, yang karena perkembangan historis, merupakan bahasa yang dipakai sebagai lingua franca, seperti halnya bahasa Melayu yang dulu merupakan lingua franca di Indonesia. Bahkan bahasa Latin bukan merupakan bahasa “dasar”. Bahasa yang paling tua di Eropa dan sebagian dari Asia adalah bahasa Indo-European.

Bahasa Yunani, Celtic, Italic, Germanic, Slavic, Baltic, dan Indo-Iranian merupakan anak bahasa. Bahasa Latin adalah dialek dari bahasa Italic. Selain itu, bahasa Latin tidak pernah menghasilkan karya filosofis, drama, dan literatur yang berarti. Kebanyakan karya Latin adalah mengenai hukum, administrasi, dan politik.

Namun, karena suku Latinum berhasil merebut kekuasaan di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika Utara, mereka berhasil menjadikan bahasa Latin sebagai bahasa pemerintah dengan mendesak bahasa Yunani sebagai bahasa budaya. Karya Yunani tidak pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, tetapi diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan lewat Spanyol dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Baca entri selengkapnya »

Posted Jumat, 12 Maret 2010 by FAS in Bahasa, budaya, Motivasi, Pendidikan

Tagged with , , , ,

Infotainment, Ghibah dan Babi   1 comment

Hanya dengan sebuah ‘kicauan’ seorang Luna Maya yang lembut ternyata bisa mengguncang Indonesia. Itu lah yang terjadi beberapa hari yang lalu. Melalui Twitter, sebuah jejaring sosial, Luna memaki infotainmet dengan kata-kata yang dianggap menghina dan mencemarkan nama baik. Para pekerja infotaiment pun sontak marah. Mereka segera melaporkan Luna ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik, penginaan dan fitnah. Tidak tanggung-tanggung mereka menggunakan ‘pasal karet’ UU ITE untuk menjerat Luna dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara dan denda maksimal 1 milyar rupiah.

Belum lagi polisi bereaksi memanggil Luna, kasus ini semakin heboh ketika sebagian wartawan menyesalkan rekan-rekan mereka sesama wartawan yang melaporkan Luna ke polisi. Mereka menganggap hal ini terlalu berlebihan, apalagi sampai menggunakan UU ITE. Usaha damai pun mereka usahakan, namun belum berbuah hasil.

Tidak hanya itu, heboh pun semakin semarak ketika beberapa TV mendiskusikan hal ini dengan menampilkan kelompok yang pro dan kontra. Jadilah semakin ramai, ketika para wartawan yang diundang bicara ribut sesama mereka sendiri tentang kode etik jurnalistik, makna berita, kebebasan berekspresi, bahkan tentang status kewartawanan mereka.

Terakhir, setelah heboh Luna Maya menghiasi media, muncul pro dan kontra di facebook, twitter dan jejaring sosial lainnya, pada ulama pun ikut turun tangan. MUI dan PBNU mengumumkan ulang tentang fatwa haram Ghibah yang pernah mereka keluarkan beberapa tahun sebelumnya. Kalau MUI lebih malu-malu hanya dengan menyatakan ghibah nya saja yang haram dan tidak melarang tayangan infotainment, PBNU lebih tegas dengan pernyataannya bahwa infotainment gosip haram, dan meminta media menghentikan tayangan ini (baca kompas).

Yang jadi permasalahan, mengapa sih MUI tidak mau tegas ‘mengharamkan’ infotainment? Kalau hanya mengharamkan ghibah, tanpa perlu fatwa MUI pun dari sananya ghibah sudah haram, karena itu ketentuan agama, sama halnya seperti haramnya babi untuk dikonsumsi. Tapi, mengapa untuk kasus babi, MUI sangat teliti (kalau tidak mau disebut berlebihan), sampai-sampai semua produk yang mengandung unsur babi, seperti enzimnya pun difatwakan haram. Kita mungkin masih ingat kasus vaksin meningitis untuk jama’ah haji tahun ini, yang disebut-sebut mengandung enzim babi, sampai-sampai menimbulkan kebingungan di sebagian jama’ah yang akan berangkat.

Kalau mengikuti fatwa MUI tentang babi, yang sampai-sampai semua produk makanan/minuman/obat/kosmetika harus mendapat sertifikat halal dulu baru boleh diperjualbelikan, bukankah seharusnya infotainment sebagai salah satu produk yang menjadikan ghibah sebagai salah satu bahan bakunya juga harus dinyatakan keharamannya? Atau jangan-jangan ghibah tidak lebih berbahaya dari pada babi, sehingga kadar keharamannya lebih rendah daripada babi? Tanya kenapa.

Posted Minggu, 27 Desember 2009 by FAS in Berita, budaya, Opini, Pendidikan