Cara Mengajar yang Efektif

Karikatur_GuruMengajar bagi sebagian orang adalah pekerjaan yang sulit. Namun sebagian yang lain dapat mengerjakannya dengan mudah, bahkan sangat menikmati. Sulit atau mudahnya mengajar tergantung dari apakah kita tahu atau tidak cara melakukannya. Sebenarnya ini bukan hanya berlaku dalam mengajar, tapi juga pada semua jenis pekerjaan.

Mengajar yang efektif itu penting demi tercapainya tujuan pendidikan. Namun, karena mengajar itu kompleks dan murid-murid itu bervariasi, maka tidak ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif. Guru harus menguasai beragam prespektif dan strategi, dan harus bisa mengaflikasikannya secara flesibel.

John W. Santrock dalam bukunya Psikologi Pendidikan menjelaskan bahwa untuk menjadi guru yang mampu mengajar secara efektif dibutuhkan dua hal (1) pengetahuan dan keahlian profesional, dan (2) komitmen dan motivasi.

Berikut rangkuman penjelasannya: Lanjutkan membaca

Indonesia dari Bandung

‘Indonesia’ sebagai sebuah nama, yang awalnya merupakan sebutan studi etnologis untuk bangsa-bangsa di Asia Tenggara sebagaimana diacu oleh Logan dan Bastian, kemudian dipopulerkan oleh mahasiswa-mahasiswa Jawa-Sumatera-Minahasa yang belajar di Negeri Belanda, khususnya, dan Eropa, umumnya, sebagai istilah atau sebutan politis bagi suku-suku bangsa di Hindia Belanda yang berjuang bagi kemerdekaannya dari penjajahan Belanda.

Salah seorang yang dianggap pertama menggunakan nama “Indonesia”di Hindia Belanda waktu itu adalah bekas mahasiswa yang lulus dengan cum laude di Swiss, yaitu melalui nama kantornya di Jl. Braga Bandung, jalan paling elit di Indonesia waktu itu. Ketika melewati Jl. Braga dan melihat nama “Indonesia” di depan kantor itu, Bung Karno, yang waktu itu mahasiswa tingkat satu Sekolah Tinggi Teknik Bandung (Bandoeng Techniesche Hoogeschool, kini ITB) berkata dalam hati, “Siapa orang yang berani memakai nama ‘Indonesia’ ini?” Lalu Bung Karno pun masuk ke kantor itu, ingin berkenalan dengan pemiliknya. Pemiliknya adalah Dr. G.S.S.J. Ratulangi. Dari Ratulangi-lah Bung Karno meyakini bahwa keindonesian merupakan kekuatan politik untuk memerdekakan Hindia-Belanda. (Periksa Haryanto, Sejarah Bandung).

Setelah itu, dari pihak orang Belanda sendiri, muncul tokoh ahli hukum adat, yaitu Prof. Mr. C. Van Vollenhoven, yang menganjurkan nama Indonesier sebagai pengganti Inlander dalam bukunya, De Indonesier en zijn ground. (Sebelumnya ia menulis Het Adatrech in Nederlandsch-Indie).

dikutip dari : Alif Danya Munsyi, Bahasa Menunjukkan Bangsa, KPG, 2005, hal 77

indo-bandung

Ketika Gandhi Kehilangan

Gandhi1Suatu hari, Gandhi hendak pergi ke suatu tempat dengan menggunakan kereta. Ia berlari kencang mengejar kereta yang mulai bergerak meninggalkan stasiun. Ketika ia berusaha naik ke kereta, salah satu sepatunya terlepas. Segera saja Gandhi melepas sepatu yang satunya lagi, dan melemparkannya di samping sepatu yang jatuh di rel kereta.

Melihat apa yang terjadi, Teman-temannya kaget, dan bertanya kepadanya,”Mengapa kamu melakukan itu?” Mengapa kamu buang sepatu yang sebelah lagi?”

“Aku ingin orang yang menemukan sepatu saya nanti, menemukan kedua-duanya, sehingga dia dapat mengenakannya. Kalau dia hanya menemukan sebelah saja, dia tidak bisa mengenakannya. Sementara aku… aku juga tidak bisa mengenakan yang sebelah lagi.”Jawab Gandhi.

===========

Kesedihan dan kebahagian hanya berganti kepemilikan.
Tak usah sedih jika kehilangan.
Karena akan berbahagia dia yang menemukan.
Apakah bersedih bisa mengembalikan yang hilang?

disadur/diterjemahkan dari adikku Amani

Pengenalan AKSARA LATIN di Indonesia

053AKSARA LATIN pertama kali mulai dikenalkan secara resmi pada 1536, yakni melalui sekolah pertama di Indonesia yang didirikan di Ambon oleh penguasa Portugis, Antonio Galvao. Orang-orang di Ambon mengenal bahasa Melayu melalui karya misioner Fransiscus Xaverius. Pastor ini meminta seseorang di Malaka menerjemahkan ayat-ayat pegangan Nasrani, “Doa Bapa Kami”, “Salam Maria”, dan “Syahadat Rasuli”, dan berkeliling membawa lonceng di Ambon dan sekitarnya. Siapa yang bisa menghafal ayat-ayat pegangan itu lantas dibabtis di bawah nama Bapa, Putra, dan Rohkudus.

Tapi baru satu abad kemudian kitab suci Nasrani dicetak dalam bahasa Melayu. Dan sejauh ini, kitab itu lah yang boleh dikata sebagai cetakan tertua dalam sejarah pustaka Indonesia bertuliskan latin, dikerjakan oleh Brouwerius, diterbitkan pada 1663.

Manakala Belanda berhasil mengalahkan Portugis, didapatnya orang-orang di Ambon-sebagai pusat rempah-rempah yang menjadi tujuan utama penjajahan bangsa-bangsa Barat- telah mengenal bahasa Melayu. Melihat kenyataan ini, kemudian Belanda memanfaatkan bahasa Melayu sebagai bahasa administratif.

Dalam perkembangannya di kemudian hari, orang Belanda juga mengajar orang-orang di Ambon dan Maluku berbahasa Melayu. Salah seorang yang paling penting adalah Josef Kam, Pendeta Protestan lembaga NZG (Nederlands Zendelingen Genootschap).

Di masa penjajahan Belanda inilah bahasa Melayu-tinggi sebagai kosokbali Melayu-pasar, dilembagakan lewat satu-satunya kitab yang dikeramatkan oleh Belanda, yaitu:

“El Khawlu’l Djadid, ija itu segala surat perdjanjian baharuw, atas titah segala tuwan pemarentah kompanija, tersalin kepada bahasa Melajuw”

Pengaruh bahasa Arab merupakan ciri perdana bahasa Melayu-tinggi tersebut. Tulisan-tulisan sastra lama Melayu yang ditulis dengan Arab gundul, di masa ini, juga ditransliterasi oleh Belanda menjadi buku-bukku penting dengan aksara Latin, misalnya Hang Tuah dan Sejarah Melayu.

Dikutip dari : Alif Danya Munsyi, Bahasa Menunjukkan Bangsa, Jakarta, KPG, 2005, hal 55-56.